Sabtu, 04 Maret 2023

Pengalaman Operasi Cabut 4 Gigi Bungsu (Wisdom-Impacted Teeth) Menggunakan BPJS Kesehatan


    Setelah drama sakit gigi yang aku tulis sebelumnya, kali ini aku mau langsung aja nulis pengobatan lanjutan seputar gigiku. Yaitu pengalaman dan prosedur cabut gigi bungsu (wisdom tooth) atau lebih tepatnya impacted teeth 4 gigi sekaligus menggunakan BPJS Kesehatan. Karena BPJS memang men-cover langsung tindakan operasi cabut gigi, termasuk kasus "Gigi Bungsu" atau Impacted teeth alias gigi terjebak.

    Sebelum nulis jauh ke prosedurnya, aku mau sedikit kasih pengertian sedikit yang aku tau mengenai Gigi Bungsu. Jadi kalo menurutku, setiap orang berkemungkinan besar beresiko memiliki gigi bungsu normalnya ya 4 di ujung rahang atas bawah - kanan kiri. 

    Jadi pengertian gigi bungsu itu adalah gigi geraham yang tumbuhnya belakangan/terakhir  sekitar saat usia kita memasuki angka 16-25 tahun. Dan jika kasus gigi bungsu sudah terimpaksi atau terpendam/ terjebak didalam gusi bahkan tulang rahang karna tak mendapat ruang untuk tumbuh, maka kemungkinan ia akan tumbuh miring dan mendesak gigi disebelahnya bahkan menimbulkan peradangan ke gusi dan mengganggu sistem saraf hingga persendian disekitarnya. Karena dia terjebak,  maka gigi ini tidak dapat digunakan untuk mengunyah, karna bakalan meradang bahkan bengkak dan menimbulkan rongga yang dapat menimbulkan bakteri lebih mudah masuk ke dalam gusi. Paham kan segala sesuatu yang "terpendam" apalagi terjebak itu beresiko menimbulkan rasa sakit. Udah yaa, langsung ke inti cerita panjangnya.....

Berikut langkah/Prosedurnya:

a. Datang ke klinik faskes 1 untuk minta surat rujukan ke dokter bedah mulut.

    Desember 2022

    Minggu ke-2 pasca selesainya penanganan drama gigi berlubang yang syulit terlihat lubangnya itu, aku langsung ke klinik faskes I diantara panjangnya antrian ke dokter gigi untuk minta rujukan ke poli bedah mulut di RSUD. Waktu itu, aku membawa hasil rontgen panoramic dan setelah melihatnya dokter klinik menganalisis keluhan yang aku rasakan dan langsung bilang akan dirujuk 4 gigi sekaligus dan nanti akan rawat inap selama 3 hari karena harus dibius total. Sama seperti yang sudah dijelaskan dokter periodonti sebelumnya. 

    Surat rujukan dari faskes itu baru bisa dibuat 1 hari sebelum kedatangan ke rumah sakit yang dirujuk. Nah, kebetulan dokter bedah mulut di RSUD Kota Tangerang buka Senin-Sabtu dengan dokter yang berbeda-beda, karena memang paling banyak pasiennya. Jadi waktu itu aku putuskan untuk ambil hari sabtu yang libur kerja dan waktunya terbatas hanya 3jam dengan antrian yang membludak.

b. Datang ke Rumah Sakit yang dirujuk

    Hari sabtu pagi biasa setelah sholat subuh aku menuju ke RSUD agar dapat antrian ke poli bedah mulut. Karena info dari security poli bedah mulut hari sabtu hanya melayani hingga pukul 11 siang, itupun pasiennya terbatas dan pasti selalu ramai. Dan walau datang sepagi itu, ternyata aku tetap kalah cepat dengan pasien lain yang rela datang jam 3 pagi. Alhasil aku dapet antrian no 70an keatas.  Duduk dipinggiran taman diantara padatnya pasien bersama ibu-ibu dan bapak-bapak, banyak pembahasan seputar bola (karena memang pas lagi ada piala dunia di Qatar) dan bahas badminton era jamannya si cantik Verawaty  (versi bapak2 kala itu) yang konon meninggal karna kanker. Emang seseru itu obrolan sehat tentang olahraga bersama bapak ibu lansia di rumah sakit.

    Jangan lupa dokumen pelengkap : surat rujukan klinik faskes I, Fotocopy KTP dan KK optional disiapin ya untuk registrasi.

        Lama mengantri dipanggil, pukul setengah 7 pagi bapak2 disampingku menanyakan poli tujuanku. Dan saat kusebut poli gigi bedah mulut, beliau langsung memberikan no urutan 2. Beliau khawatir aku ga bakal kebagian antrian masuk poli jika menggunakan no.antrianku. Jadi si bapak ini memegang no antrian 1, dia rela menginap di UGD sambil nonton piala dunia hingga larut pagi. Langsung masuk duduk di pendaftaran loket bersama si Bapak, ternyata beliau kontrol ke Poli Jantung. Dan saat beliau sudah dipanggil ke poli tujuannya, kami langsung saling melambaikan tangan sambil ku teriakkan sekali lagi "terima kasih pak, semoga sehat selalu."

c.  Konsul ke Poli Dokter Bedah Mulut

        Sambil memegang berkas berikut hasil rontgen panoramic, aku duduk diantara keramaian pasien lain. Kebetulan ruangannya disamping poli dokter gigi anak, jadi bisa sambil liatin anak-anak bermain dan tak jarang ada yang nangis setelah masuk ke ruangan poli hehee. Tapi entah mengapa rasanya hari itu berbeda dengan kunjungan sebelum2nya, hawanya tuh dingin banget serasa udah memasuki ruangan operasi wkwkwk.

        Setelah terpanggil, aku masuk ruangan dan langsung ditanya keluhannya apa. Aku langsung bilang ada gigi impaksi sambil menyodorkan panoramic ke dokter. Sambil menjelaskan jika aku dapat rekomendasi dari dokter periodonti karena sering migrain, pusing, demam dadakan dan gusi kanan bawah pernah bengkak meradang. Dan setelah melihat hasil panoramic Drg. Putri Sp.BM langsung menjadwalkan untuk tindakan odontektomi 4 gigi sekaligus di bulan depan tepatnya Januari 2023. Dan ini termasuk penjadwalan paling cepat jika dibandingkan pasien lain yang harus menunggu antrean antara 2-3 bulan ke depan, bahkan ada juga yang mesti nunggu tindakan 6 bulan berikutnya . Dan kala itu aku diberikan penjelasan untuk ikut prosedur checkup lengkap pra operasi.

Dan berikut beberapa schedule pra operasi:

1. Rontgen Dada / Rontgen Thorax

        Sebelum pulang, dokter menyodorkan surat rujukan ke bagian Radiologi untuk Rontgen dada/thorax sebagai langkah awal schedule kegiatan pra operasi. Dan Dokter Putri langsung tersenyum sambil bilang "Sampai jumpa lagi Defi". Wah, rasanya saat itu seperti berkunang-kunang seperti aku sudah membuat kesepakatan bersama dengan Drg.Putri untuk pembedahan secepatnya. Setelah menuju ruang Radiologi dan selesai rontgen thorax, aku diberikan surat untuk pengambilan hasil rontgen di minggu berikutnya. Dan aku pun pulang dengan panas dingin karna belum terfikir siapa yang akan menemaniku rawat inap di bulan depan, mengingat aku di perantauan.

 2. Cek Darah di Lab       

     Di minggu berikutnya atau lebih tepatnya pertengahan bulan desember, aku kembali ke RSUD dengan prosedur antrean, seperti biasa dari subuh. Langsung aku menuju Ruang hasil laboratorium Radiologi untuk ambil hasil rontgen thorax, yang mana hasilnya pada umumnya alhamdulillah bagus. Lanjut aku bawa hasilnya menuju Ruangan Drg. Putri dan kala itu aku langsung diarahkan untuk ke tahap checkup darah di lab, ini lebih kayak MCU karna lengkap banget. Pokoknya diambil darahnya lumayan banyak karna akan dipakai untuk 5 sample pengujian, itupun sambil diajak bercanda sama perawatnya tapi aku malah fokus liatin jarum yang tertancap pada pembuluh vena di lenganku. Dan waktu itu cukup berasa nyeri sampe aku nggak bisa ikut latihan badminton mingguan hehe. Hasilnya baru bisa aku ambil di minggu berikutnya untuk dikonsultasikan ke bagian dokter penyakit dalam.

 3. Konsultasi & Persetujuan Dokter Penyakit Dalam 

     Minggu berikutnya, aku langsung mengantri di depan Ruang Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Dan disitu yang mengantri kebanyakan bapak ibu lansia dengan berbagai kondisi penyakit dalam. Setelah mengantri cukup lama, aku dipanggil untuk konsultasi terlebih dahulu dengan hasil check darah serta rontgen dada yang ada di genggamanku. Setelah dilakukan pengecekan dan kondisi bagus tidak ada riwayat paru-paru dan hasil lain yang normal, Dokter langsung memberikan jawaban surat konsultasi persetujuan untuk segera tindakan operasi. Surat Jawaban persetujuan langsung aku serahkan ke Drg.Putri. Setelah dibuka dan dibaca dengan seksama, Drg.Putri cukup terheran-heran karna hasil check lab semua normal, tidak ada riwayat penyakit lain kecuali gigi impaksi. Langsung setelah itu aku dibuatkan surat untuk rawat inap tindakan operasi 2 minggu berikutnya sekitar akhir Januari 2023, sesuai schedule awal. 

      Sebelum pulang, Perawat memberi arahan untuk bertemu Tim perawat atau bagian Dokter anestesi, pagi sebelum rawat inap. Jadi aku harus rawat inap 3 hari 2 malam di RSUD, ini sudah merupakan salah satu prosedur penanganan operasi gigi bungsu dengan bius total mengingat 4 gigi sekaligus yang akan dibedah. Setelah itu aku disarankan langsung Swab PCR, mengingat saat itu masih gencar-gencarnya virus covid. Aku juga disarankan membawa baju ganti berikut membawa 1 orang saja tidak boleh lebih, untuk menemani di dalam ruang rawat inap. Dan akupun bingung siapa yang harus kuhubungi, akhirnya aku meminta bantuan Eteh Rosi bukan si pembalap moto gp. Dan tentu aku harus meminta izin kepada putra tercintanya untuk meminjam ibundanya beberapa hari dirumah sakit huhuu. 2 minggu pra operasi aku coba jalan-jalan, hunting kuliner dan nikmatin makanan yang ingin kunikmati, mengingat beberapa minggu kedepan aku tak akan bisa menyantap dan menikmatinya hahaa.

oh iya, 1 hari sebelum operasi aku nyempetin ke GBK karna ajakan teman sekufu. Kala itu sedang turnamen badminton Indonesia Daihatsu Master 2023. Sempet ketemu beberapa atlet dengan badan panas dingin, dan akhirnya langsung pulang ketiduran di bus trans karna rasa sakit kepala yang tiba-tiba menyerang H-1 pra operasi. 

25 januari 2023

Hari ke-1 Rawat Inap

Teh Rosi kala itu sudah menginap di tempatku diantar mas Heri jauh2 dari Kota Serang ke Tangerang, bahkan dia rela cuti 3 hari demi menemaniku rawat inap. Kami berangkat dini hari dan kala itu antrian sangat ramai tak seperti hari biasanya. Bahkan aku yang harus rawat inap di hari itu sempat terabaikan dengan membludaknya antrian yang sedikit membuatku pusing, ditambah aku belum mendapatkan jadwal konsul ke ruang nurse anestesi serta jadwal PCR.

sambil nunggu dipanggil ngusilin dia dari belakang,
yang ngambek mulu berantem sama kakaknya

 Dengan menenteng tas yang berisi perlengkapan rawat inap, makanan lunak pasca operasi nantinya, aku menuju ruang nurse anestesi setelah dhuhur. Disana aku ditanya seputar riwayat kesehatan selama ini, BB, TBC seputar paru, jantung, alergi dan sebagainya. Aku juga diberikan sedikit arahan mengenai operasi dan diberi sepotong kertas mengenai 19 hal yang perlu aku perhatikan pasca operasi.

 Setelah itu aku diarahkan PCR. Setelah PCR aku langsung menuju Ruang IGD untuk registrasi rawat inap, kalo ngga salah di lantai 3 atau 4 aku agak lupa. karna cerita ini aku lanjutin setelah 1 tahun pasca operasi heheh.. Setelah sampai di depan ruang rawat inap, aku bertemu dengan segerombolan orang yang akan operasi juga. Dan salah satunya 1 ruangan denganku. 

Pukul 13.00 Kami masuk ruang rawat inap. Dan langsung dipakaikan gelang warna pink sebagai penanda pasien disitu. Dan aku menonton live badminton dari HP karna TV diruangan belum bisa dinyalakan. Walaupun BPJS kami kelas I, namun ternyata ruangan kami dipakai untuk 3 orang tapi ruangnya sangat luas. TV yang tidak menyala karna peralihan antena ke STB (Stop box), ada AC tepat di sisi kananku yang sengaja dinyalakan dengan suhu tertentu supaya aku tetap hangat di balik tirai-tirai itu. Kala itu ada Tiara teman 1 ruang yang sama2 pembedahan 4 gigi bungsu, yang mana ibunya sama2 berasal dari Wonogiri. Jadi kala itu mama Tiara sengaja ngga jagain saat rawat inap karna dia semandiri itu dengan sepupunya. Serta supaya kami sama2 dirawat di rumah sakit tanpa didampingi orangtua haaha ada2 aja. 

live badminton karna TV nya belum dipasang STB

  Alih-alih kami istirahat, kami malah hunting keliling ruang sebelah tempat Imron (adik kecil laki-laki) yang akan operasi gigi juga. Jadi rumah sakit kala itu bagaikan kompleks dengan tetangga yang sangat ramah. Karena saling tengok menengok dan bertukar kabar selama 3 hari. Lalu kami dipanggil suster di ruang recepsionist untuk menjawab beberapa pertanyaan, pembagian handuk, sabun dan mengisi beberapa formulir serta tanda tangan berkas. 

Pukul 15.30 mendapatkan snack khusus dari rumah sakit.

Pukul 16.30 jadwal makan sore dan kalo nggak salah sebelum jam 5 sore aku mulai diinfus di bagian tangan kiri. Ya seperti rumah sakit pada umumnya, sore itu segerombolan dokter jaga dan perawat mulai berdatangan memperkenalkan diri, mengontrol dan mengecek kondisi badan kami. Dan aku yang agak pusing dari siang terpaksa mendapat jadwal operasi besoknya di jam 12 siang, sedangkan Tiara lebih awal pada pukul 9 pagi. 

Kala itu kami disuntikkan beberapa obat, dan yang paling sakit menusuk-nusuk hingga ke pembuluh darah kami adalah obat alergen. Rasanya benar-benar kayak disengat tawon di sekujur tangan, lalu ditandain apakah ada reaksi alergi atau tidak. Kami disarankan untuk persiapan membeli madu murni merk Nusantara untuk perawatan dan menambah tenaga pasca operasi. Dan untungnya mama Tiara yang sangat ramah membantu kami menemukan madu tersebut.

Jujur saja, malam itu aku tidak bisa tidur, apalagi melihat teteh yang harus duduk menjagaku. Begitu juga Tiara dengan sepupunya yang sering kali mengunjungi kami karna ngga tau mau ngapain lagi hahah, kami justru berkumpul dan asik mengobrol hingga salah satu pasien balita masuk ke ruangan kami bernama Raina. Adik kecil yang mengalami tumor otak yang terus menangis memanggil kakaknya. Dan kami pun tak tega melihatnya, akhirnya coba menghiburnya namun kami harus tetap istirahat di ranjang masing-masing :( karena sudah diinfus.

Pukul 11.45 Snack Tiara datang. Dia harus minum susu dan snack yang disediakan Rumah sakit sebelum akhirnya mulai berpuasa jam 24.00 hingga operasi. Namun ia malah membawa snacknya ketempatku dan tidak menghabiskan susunya karna sangat amis. 

Pukul 01.50 Dini hari adalah giliranku untuk makan dan minum susu sebelum berpuasa, kutahan amisnya susu itu dan meminumnya sampai habis.

Paginya, shubuh kami disarankan untuk mandi dan keramas sebelum operasi supaya bersih dan steril.

Hari ke-2 Rawat Inap

Paginya kami bergantian mandi membersihkan diri. bahkan kami sempat mengabadikan moment pagi itu, pra detik-detik operasi sambil tertawa. Bahkan tak ada kesan menakutkan hingga operasi menjelang, mengingat semua di ruangan kami isinya orang kocak semua.

Penampakan before operasi

Pukul 09.00 Tiara dijemput oleh suster dengan kursi roda menuju ruang operasi di lantai bawah.

Kami saling menyemangati satu sama lain. 

Pukul 10.30 Tiara dibawa naik dengan keadaan setengah sadar dan masih Baal karena pengaruh bius. Menjelang pukul 12.00 ia mulai diberikan bubur untuk makan siang.

Pukul 12.00 Kini giliranku dijemput dan menduduki kursi roda itu. Raina adik kecil itu pun akan dijadwalkan operasi juga.

Aku menaiki kursi roda tanpa alas kaki, dan langsung didorong Teh Rosi menuju lift bawah ke ruang operasi yang lumayan jauh dan dingin menuju lorong ruangan yang berkelok-kelok nan sepi sekali lorong menuju ruang operasi itu. Sesampainya didepan ruang operasi, aku mulai merasakan hawa dingin dengan jantung yang masih stabil sih ya hehee. Akhirnya aku masuk berjalan sendiri dan harus berpisah dengan Teteh untuk memasuki ruangan yang dingin itu. 

Didalam ruang itu ada beberapa pasien yang akan di anestesi lalu di operasi dengan kasus yang berbeda-beda. Aku sempat disuruh tiduran sebentar dan ada raina di ranjang sebelahku terus menangis. Sungguh tak tega melihatnya, anak sekecil itu harus bergelut dengan rasa sakit. 

Aku disuruh duduk di ruang ganti oleh suster, dan berganti kostum operasi. Namun lagi-lagi diisengin oleh perawat anestesi, bajuku yang sudah disiapkan diambil :( huhuu dan akhirnya dia dimarahin oleh susterku. Akhirnya aku sudah berganti kostum operasi dengan baju dan  penutup kepala berwarna hijau kesukaanku, namun kali ini jenis kostumnya berbeda huhuu. Kala itu, yang aku dengar dari ruang operasi adalah musik metal rock yang aku suka banget cordnya, dokter anestesi acap kali lewat sambil menyanyikannya. Berasa di ruangan konser band metal 🤟🤟🤟 😌

Detik berganti menit berganti jam setengah 1, Dokterku masih tak kunjung datang. Akhirnya aku kedinginan dan sedikit menggigil. Suster menyuruhku bersabar karna Drg. Putri masih menangani pasien dibawah. Akhirnya tepat jam 2 siang Drg.Putri datang dengan terburu-buru mencari pasiennya. Namun, tiba-tiba ia melihat hasil rontgenku dan mengatakan jika tidak memungkinkan hanya akan dibedah 3 gigi saja, karna gigi bagian kiri atas, posisinya sangat tinggi dan terkesan sulit tidak memungkinkan. 

Dan aku bilang, "jika sangat memungkinkan diambil, tolong bedah saja dok. Biar rasa sakit pisau bedahnya sekaligus, cukup kali ini saja."

 Ia pun sedikit ragu namun akhirnya aku langsung disuruh segera memasuki ruangan operasi.

Setelah berjalan memasuki ruangan operasi, aku dibantu naik dengan anak tangga karna tinggi badanku yang mini ini. Tubuhku tidak lagi menggigil, dokter anestesi menutupku dengan selimut seraya mengajakku ngobrol sambil memasangkan beberapa alat deteksi detak jantung, cairan infus, tensi darah, oximeter dan aku pikir mulai menyuntikkan obat bius atau bius hirup, aku tak tahu. Ada 2 orang dokter lelaki, Kulihat keatas lampu-lampu operasi itu sambil menjawab pertanyaannya yang terus menanyakan namaku yang seperti atlet badminton. Dan Dokter Putri yang tiba2 muncul sambil menanyakan namaku memang seperti atlet, lalu melihatku dan aku yakin dia sedang memastikan biusku sudah bereaksi atau belum. Dan tiba-tiba semuanya gelap begitu saja, aku mulai tertidur lelap dan tidak mengingat kejadian apapun setelah itu. Hahah.

Saat terbangun, aku mendengar adzan dan samar-samar melihat seorang perawat lelaki berbaju merah maroon dengan suara lembut berkata "Oh iya, sudah sadar ya. Sebentar yaa" sambil melepaskan katup oksigen di hidungku. Ini adalah moment aku ingat saat bercanda dengan teh rosi, "kira-kira siapakah orang pertama yang akan aku lihat saat aku sadar?" hahaa. 

Lalu mulailah terasa ada yang perih di bagian rahang atas, bawah telingaku sebelah kiri. dan apa ini mengganjal-ganjal di mulut??  Oh ternyata dimulutku diganjal tampon atau sejenis kasa tebal untuk menahan aliran darah keluar pada bekas operasi. Lalu datenglah suster dan perawat tadi memindahkan badanku dengan aba-aba ke ranjang rawat inapku. Barulah aku bisa mulai menggerak-gerakkan kepalaku yang berat akibat pengaruh bius yang masih terasa, dan aku dibawa keluar. Didepan pintu, aku bisa melihat Teh Rosi yang menunggu sambil terus melambai-lambaikan kedua tangannya. Aku bisa melihatnya samar-samar karna mataku masih berat dan baal. Tapi kalo sudah sadar ingin rasanya memukul tangannya itu. Dan setibanya diruangan sekitar pukul 16.00, kakiku menggigil lalu suster mengatur suhu AC dan memberiku selimut hangat.

Dokter jaga dan perawat datang untuk mengganti tamponku yang sudah penuh dengan air ludah yang terus mengucur dengan sedikit darah. Pipi kiriku langsung biru dan bengkak pasca operasi, dengan bibir sedikit tergores dan rasa yang tak nyaman ditenggorokan. Kata dokter itu adalah bekas alat yang sengaja dimasukkan ke tenggorokan saat operasi berlangsung sehingga mungkin terasa nyeri di leher dan tak nyaman setelahnya. Lalu tamponku diganti, begitu juga dengan jarum infusku yang harus dipindah ke tangan kanan karena bocor keluar darah. Lengkap sudah rasa nyeri ditangan kanan dan kiri. Malam itu, aku sempat diberi botol cairan yang beku untuk mengompres pipiku yang bengkak.

Setelah itu aku langsung disuruh makan dan minum  teh manis. Yang bikin aku kaget, menu makanku adalah nasi dan ikan. Bukan bubur lembut kaya punya tiara pasca operasi. Namun dokter malah menyarankan makan nasi karna lebih bagus untuk pencernaan, dan perawat pun besoknya menyiapkan daging suwiran kecil-kecil pada menuku. Aku paksa makan sedikit dan memakan buah pisang serta yoghurt yang sudah aku siapkan dari rumah. Dan aku mulai menerapkan 19 hal penting pasca operasi. Termasuk salah satunya tidak boleh sering meludah, tidak boleh minum dengan sedotan, jadi aku minum pake sendok disuapin sama teh rosi padahal harus banyak minum. Lalu minum obat dan di kulumin madu ke bagian luka jahitan operasi, biar mempercepat penutupan luka dan membantu mencegah peradangan.

Dan begitulah, dari awal kenal hingga saat itu teh rosi tak pernah berubah. Dia sangat jahil, terus mengiming-imingiku dengan makan  snack chitato dan snack kesukaanku lainnya wakakakk. Untungnya nafsu makanku berkurang pasca operasi. Dan pipiku semakin bengkak, menggembung hingga kotak, hihii lucu banget. padahal Tiara engga sampe sekotak itu. Dan benar-benar biru memar, alhamdulillah ke empat gigi itu bisa diambil. Dan aku terus bercerita tiada henti pasca operasi hingga dini hari, dan eteh menjadi pendengar setia sambil terkantuk-kantuk. Karna kalo dipakai buat diam malah terasa nyut-nyutan yang sebelah kiri, tapi yang kanan tidak berasa sama sekali, seperti tidak terjadi apa-apa pada rahang sebelah kanan.

Hari ke-3 Rawat Inap

Hari ini adalah hari terakhir rawat inap. Aku mandi pagi-pagi dan baru diperbolehkan menyikat gigi dan berkumur 24 jam setelah operasi untuk mencegah pendarahan pd gusi. Selesai sarapan dan kontrol dokter, sempat ramai saat kunjungan dokter dan perawat karna pipiku memar dan bengkak parah sampai kerudungku ga muat lagi dipakai, dan akhirnya pakai kerudung persegi punya teh rosi bukan si pembalap tea. Pokoknya pengen ketawa tapi nahan perih jahitan sebelah kiri, karena posisi gigi bungsu yang sebelumnya terlalu keatas itu jahitannya lumayan panjang. Udah kayak bekas ketonjok bengkak memarnya hahah.

Usai urus berkas dan ambil obat serta surat kontrol, teteh mengajakku berkemas pulang dengan pasien lainnya. Kami keluar pulang bersama, dan dapet cemilan favoritku dari mama Tiara.


Pasca operasi sebelum pulang

Perawatan Pasca Operasi

Tiba dirumah agak kesulitan menemukan makanan lunak sekali telan. Untungnya ada madu yang menopang energiku, selain yogurt yang dicampur pisang dan soup instant. Malamnya setelah pulang dari RS konon kata teteh, pipiku bengkak maksimal. Memang sih keliatan sampai pori kulit yang terlihat mengkilap tipis gitu. Hehee pengen ketawa tapi ya gimana nyeri juga.  

Pokoknya aku bengkak tuh sampai 10 hari, itu pagi siang malam aku kompres hangat terus.

setelah 10 hari aku baru ada jadwal kontrol pertama pasca operasi. Dan Dokter kaget juga masih bengkak dan memar belum bisa buka mulut agak lebar apalagi lepas jahitan. Akhirnya aku disuruh gosok gigi kenceng dan ganti obat kumur betadine. Jadi waktu itu ada 3 jenis obat kumur berbeda sesuai masa penyembuhannya. Setelah aku gosok kenceng, jahitan mulai meregang dan bahkan lepas sendiri dan agak perih ya. Apalagi yang sebelah kiri itu sempet nyeri pas lepas, aku minum paracetamol karna berasa pusing dan demam. Jadi dari awal sebelum operasi aku udah siapin sikat gigi kodomo yang kecil itu, rekomendasi dokter karna bulu sikatnya halus. aku juga paksain ngunyah pelan-pelan biar terbiasa. Intinya walau sakit jangan dimanjain, biar bisa terbuka lebar mulutnya. Walaupun harus hati-hati banget sikat giginya supaya ga kena keempat gusi yang paling ujung yang masih belum pulih jahitannya.

Jadi kurang lebih 17 hari, aku baru bener2 lepas semua jahitannya. Dan mulai bisa masuk makanan yang cukup banyak itu setelah 3 minggu atau hampir mendekati 1 bulan. Jadi di 3 bulan pertama pasca operasi aku memang lebih banyak makan bubur, telur orak arik, soup, yoghurt  dengan pisang, beberapa sendok nasi yang aku paksain buat melatih ngunyah. Dan wajib olahragain mulut buat terbuka supaya ga kaku. Di sebulan pertama benar-benar bisa membuka lebar mulut. Kalo bekas memar biru berangsur-angsur menjadi hijau dan bekasnya benar-benar hilang dalam waktu sebulanan lebih. Dan itu aku benar-benar banyak istirahat dengan posisi bantal agak ditinggiin. 


 ini jadwal minum obat, kompres, sikat gigi hingga kulum madu. 


ini rutinitas wajib aku selama sebulan lebih

Ini yang tiap pagi naik keatas nengokin kalo lagi minum obat 

Intinya harus rajin kontrol, dan ikutin saran dokter. Makan minum obat yang teratur jangan sampai telat. Setiap puang kontrol aku sempetin buat cari keringet, jalan pelan keliling 1 putaran ke stadion benteng. Walaupun ujungnya pusing karena kepanasan di siang hari ahahaa. Di 3 minggu pasca operasi aku mulai merindukan makanan, es krim, chiki-chiki, aneka keripik bahkan rasanya ingin kumur-kumur pake kuah laksa wkwkwk.


Pokoknya kegiatan kunyah-mengunyah dan kumur-kumur adalah salah satu kegiatan yang cukup melelahkan dan menguras energi ku🥺

Ini hanya rangkuman cerita yang aku ketik bebas tanpa alur supaya ngga lupa nantinya. Sampai detik nulis ini masih menjalani perawatan lanjutan dengan penanganan yang berbeda-beda tingkat sakitnya. Bersyukurlah yang masih diberi nikmat sehat. Kegiatan mengunyah adalah salah satu kegiatan terberat sampai saat ini 😓😥😢




Setahun setelah cabut gibung, ternyata gigi depanku yang berlubang itu pun ngilunya makin menjadi, dan aku kontrol lagi ke dokter perio dan entah apa yang terjadi tiba2 aku disarankan pakai behel. Karna mungkin mahkota gigi taring depanku yang sudah makin miring terlihat menjadi penyebab ngilu dan gigi tak rapi. 

Namun selama ini aku enggan memakai behel krna pasti sakit. Dan entahlah ketidak inginannku selama ini tiba2 harus ku alami, berharap gigi depan yang sudah ngilu bertahun2 itu bisa sembuh. Namunnnn seiring berjalannya waktu, melewati berbagai ujian dan siksaan behel yang jauh lebih mematikan rasa jiwa dan raga ketimbang oprasi gibung.

Memakai behel bukan tujuan utamaku seperti orang2 pada umumnya supay terlihat rapi dan bagus, namun ini demi kesehatan gigiku. Ditengah keterpaksaan itu, tentu dengan biaya pasang dan kontrol yang menyiksa kantong juga sebagai anak rantau yang tinggal di kosan muehehe 


Pokoknya rasanya ga bisa dijelaskan, ngilu luar dalam. Jantung berdebar-debar tiap kena tekanan dan tarikan, makan sulit, menelan sulit, tutup mulut sulit berasa gigi maju dan agak tonggos. 

Belum lagi harus dicabut 4 atas bawah, 14 bulan aku cabut gigi 8. Dan cabutnya dadakan pas kontrol karn pdatnya jam kontrol sebagai pekerja yg Sabtu masih harus berkejaran dengan jam kerja dan antrian kontrol yang terbatas. Ngerinya setiap dicabut besoknya pas ada ujian kursus bahasa, sampai2 nilaiku anjlok, karna saking nyeri kepala dan leher menahan nyeri cabut gigi & tarikan dan tekanan behel. Dengan kawat yang menusuk yang kadang bergerigi ujungnya, sampai sariawan meradang ke kulit pipi. Dan akhirnya pas ujian final, aku ga bisa berkata2 banyak, semua yg kupelajari jdi menghilang kosong hanya rasa nyeri disekujur leher rahang & lambung ,panas dingin ga karuan. Sampai Ssaemku memotivasi terus untuk bisa menjawab, tapi mulutku dan rahangku Kelu susah berfikir dan buka mulut.

Waktu demi waktu berjalan, taring itu ditarik2 lagi dengan ukuran kawat paling besar, dan udah rasanya kepala mati rasa hingga ke saraf leher, kaki dan tangan. Hingga kebas kesemutan dan aku memutuskan untuk resign, karna ga kuat rasanya di suasana dingin, karna ngilu sekali dan rahang atas bawah mulai ga nyatu, Bahakan geraham ujung ga ikut ketarik, jadi jenjang dengan gigi sebelahnya yang makin miring posisinya karena tarikan kawat behel. Pokoknya ga karuan, seperti diambang hidup dan mati setiap pakai power chain. Bagai peribahasa Hidup enggan mati tak segan. Dan entahlah ini malah taring atas jdi nonjol banget akar/tulang giginya. Gusiny malah jadi kyk tonggos pisan euy. Ga yang rata seperti dulu 😭😭😭


Doaku selalu semoga tahun 2025 ini bisa lepas behel, sudah ga tahan, ingin menikmati sisa umur dengan tanpa menahan rasa nyeri. Karna udah ke saraf dan jadinya bergantung sama obat tiap pusing dan nyeri kayak ditarik dari kepala mati hingga leher dan keujung kaki dan tangan. 

😭😭😭 Semangat para pejuang behel yang memang karna perawatan sakit.

#gigibungsu #wisdomteeth #odontektomi #bpjs #operasigigibungsu #gibung #bedahmulut #periodonti #orthodenti